Showing posts with label Agronomi. Show all posts
Showing posts with label Agronomi. Show all posts

Wednesday, 20 April 2016

Bantuan 10 Juta Benih Ikan Untuk Sulsel

MAKASSAR -- Sulawesi Selatan melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Sulsel menargetkan realisasi bantuan benih ikan sebanyak 10 juta ekor, berasal dari program Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).Program tersebut dimaksudkan untuk memotivasi masyarakat pembudidaya ikan agar lebih giat meningkatkan produksinya.

"Target benih ikan untuk Sulsel sekitar 10 juta tahun ini dan rencananya akan di realisasikan oleh UPTD Lajoa Soppeng dan UPTD Bojo Barru," kata Kepala Seksi Budidaya Laut dan Payau DKP Sulsel, Hardi Harris, kepada Upeks, Selasa (19/4/16).

Disamping batuan penyaluran kepada pembudidaya, DKP Sulsel juga menggenjot restocking di beberapa perairan umum yang tersebar di berbagi kabupaten yang ada di Sulsel.

Guna restocking sendiri yaitu menambah stock ikan agar dapat dipanen sebagai ikan konsumsi, juga bertujuan mengembalikan fungsi dan peran perairan umum sebagai ekosistem akuatik yang seimbang.

Hardi mengatakan, realisasi selama Januari hingga Maret 2015  pihak DKP sulsel telah menyalurkan benih ikan sebanyak 375 ribu ekor untuk restocking dan bantuan di berbagai daerah. "Kita sudah melakukan restocking di beberapa tempat, seperti di danau Unhas, Sungai Jennae Soppeng dan bantuan benih di Takalar untuk Restockingnya  ada 75.000 ekor, sedangkan bantuan benih sekitar 300.000 ekor," tuturnya.

Adapun jenis bantuan benih ikan dan restocking kata Hardi yaitu ikan Mas, Nila dan Lele. "Untuk Restocking itu jenis Ikan Mas dan Nila sedangkan batuan bibit ke pembudidaya yaitu jenis ikan Mas, Nila dan Lele," terangnya.

Diketahui program bantuan100 juta ekor benih ikan merupakan
merupakan instruksi langsung Menteri Kelautan dan Perikanan,Susi Pudjiastuti. Yang akan di salurkan kepada masyarakat pembudidaya di seluruh Indonesia. Sedangkan Realisasi bantuan 100 juta benih ini ditargetkan akan rampung pada November 2016 mendatang.

Seperti dikutip dari situs kkp.go.id, saat ini realisasi bantuan benih ikan sudah hampir 22 juta ekor untuk seluruh Indonesia. Alokasinya merata di Jawa dan luar Jawa.

Program 100 juta benih ini sendiri membuat posisi Balai Benih Ikan (BBI) menjadi semakin penting. Unit Pelaksana Teknis (UPT), baik yang di bawah naungan pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, juga semakin diandalkan untuk pengadaan benih dan induk.

Sepanjang tahun 2016, target produksi perikanan budidaya mencapai 19,5 juta ton. Untuk 2017, targetnya sekitar 22 juta ton.

Saturday, 16 April 2016

Maret 2016, Ekspor Perikanan Sulsel Meningkat

MAKASSAR-- Tercatat ekspor ikan dan udang Sulsel pada bulan Maret 2016 mencapai USD 8,89 juta atau sekitar 11,38 persen dari total ekspor.

Kepala BPS Sulsel Nursam Salam mengatakan ekspor ikan udang Sulsel pada bulan Maret 2016 meningkat sebesar 15.02 persen jika dibanding bulan Februari 2016.

"Ikan dan Udang Sulsel merupakan komoditas ekspor kedua terbesar setelah Nikel. Pada bulan Februari nilai ekspor ikan udang Sulsel sebesar USD 7,56 juta naik menjadi USD 8,7 juta pada bulan maret 2016," ungkapnya, Jumat, (15/4/16).

Selama Januari hingga Maret 2016 ekspor (triwulan I) ekspor ikan udang Sulsel telah mencapai USD 23,25 juta atau naik sebesar 60,05 persen jika dibanding pada periode yang sama di tahun 2015 yang hanya mencapai USD 16,15 juta.

Sementara untuk ekspor olahan ikan dan daging Sulsel pada bulan Maret 2016 mencapai USD 2,02 juta." selama. Januari hingga Maret 2016 ekspor olahan ikan dan daging Sulsel mencapai USD 4,51 juta.
Sedangkan ekspor komoditas lain seperti garam, belerang dan kapur pada bulan Maret 2016 mencapai USD 1,43 juta. Selama Januari hingga Maret 2016 ekspor garam, belerang dan kapur di Sulsel mencapai USD 3,38 juta.

Adapun Negara tujuan ekspor Sulsel terbesar pada Maret 2016 dengan lima terbesar yaitu ke Jepang dengan nilai sebesar USD 41,51 juta, disusul Amerika Serikat dengan nilai USD 7,56 juta, Tiongkok dengan nilai USD 6,97 juta, Malaysia dengan nilai USD 3,97 juta, dan Korea Selatan dengan nilai sebesar USD 2,30 juta.

Monday, 28 March 2016

Meningkat, Produksi Rumpul Laut Ditarget 3 Juta Ton

MAKASSAR -- Rumput laut merupakan komoditas unggulan bagi sebagian besar daerah di sulawesi selatan. Tahun ini Pemerintah Sulsel melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sulsel menargetkan produksi rumput laut mencapai 3 juta ton.

"Target kita naikkan mengingat produksi rumput laut kita meningkat, tahun lalu melampaui target yaitu sebesar 3,2 ton dari target produksi 2,8 juta ton," tutur Hardi Harris, Kepala Seksi Budidaya Laut Dan Payau DKP Sulsel, Senin, 28/3/16)

Adapun rinciannya yaitu rumput laut jenis cottonii sebanyak 1.988.145 ton dan rumout laut jenis Gracillaria 1.006.905 ton. " jadi totalnya sebanyak 2.995.050 ton," kata Hardi.

Sementara itu dalam skala ekspor rumput laut Sulsel DKP Sulsel menargetkan sebanyak 106.000 ton dengan nilai mencapai  USD 99.891.

Sementara itu Ketua Devisi Keanggotaaan dan kebijakan DPP Arli Pusat, Asdar Marsuki, mengatakan ekspor rumput laut sulsel banyak di minati di negara Cina, Jepang, Korea, Filipina, Eropa dan Amerika.

"Secara nasional, tahun ini kita targetkan ekspor Rumput laut kita bisa mencapai 350 ribu ton dari segi material, dengan kenaikan bisa mencapai 20 persen," ungkap Asdar

Untuk mencapai target ekspor rumput laut kata Asdar pihak Arli telah mengupayakan ekspansi pasar ke beberapa negara di Eropa dan Amerika. "Tahun ini kita mencoba membawa misi dagang di negara Eropa dan Amerika," ucapnya.

Wednesday, 23 March 2016

Februari, Ekspor Ikan Udang Sulsel Naik 7,86 Persen

MAKASSAR -- Ekspor ikan dan udang Sulsel merupakan komoditas  ketiga terbesar Sulsel, dimana pada bulan Februari 2016  ekspor ikan udang sulsel mencapai 7,56 juta dolar, atau naik sekitar 7,86 persen dari bulan sebelumnya (Januari 2016) yakni sebesar USD 7,01 juta.

"Sedangkan jika dibanding pada bulan yang sama di tahun 2015  ekspor ikan udang Sulsel naik secara signifikan yakni sebesar 41.39% dengan hasil produksi ikan dan udang pada Februari 2015 yakni mencapai USD 5,50 juta," ungkap Nursam Salam Kepala BPS Sulsel, belum lama ini.

Kata Nursam, secara akumulasi dari Januari-Februari 2016 tercatat ekspor ikan Udang Sulsel mencapai USD 14,56 juta. "Jika dibanding pada periode yang sama di tahun 2015 ekspor ikan udang Sulsel naik sebesar 35,84 persen," paparnya.

Lanjut Nursam, Sementara itu ekspor daging dan olahan ikan pada bulan Februari 2016 mencapai USD 0.82 Juta dimana terjadi penurunan sebesar 50,86 persen.

"Begitupun jika dibandingkan pada periode yang sama yakni bulan Februari 2015, yang dimana mengalami penurunan sebesar 27,91 persen. Dimana pada bulan Februari 2015 ekspor daging dan ikan olahan mencapai USD 1.14 juta," paparnya.

Sedangkan secara akumulasi dari Januari-Februari 2016 ekspor daging dan olahan ikan telah mencapai USD 2.49 Juta. "Namun jika dibanding pada periode yang sama tahun 2015 ekspor daging dan olahan ikan mengalami penurunan sebesar 21,39 persen. Hal mana pada Januari-Februari 2015 sebesar USD 3.16 juta," tandasnya.

Monday, 21 March 2016

Produksi Udang Sulsel Ditarget 41 Ribu Ton

MAKASSAR -- Udang merupakan salah satu komoditas unggulan perikanan budi daya yang terus ditingkatkan produksinya di daerah Sulawesi Selatan.

Tahun ini Pemerintah Sulawesi Selatan melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sulsel menargetkan produksi Udang sebesar 41. 378 Ton atau naik sekitar 10% dari realisasi produksi di tahun sebelumnya yakni sebesar 40.346 ton.

"Rinciannya yaitu udang windu sebanyak16.389 ton undang Vaname sebanyak 17.189 ton dan udang lainnya 7.800 ton," ungkap Kepala Seksi Budidaya Laut dan Payau DKP Sulsel, Ir Hardi Harris MM, Senin (21/3/16).

Diketahui hasil produksi udang Sulsel telah menujukkan perkembangan yang signifikan. Dari hasil olah data DKP sulsel mencatat produksi udang sulsel telah melampaui target produksi pada tahun 2015 yakni mencapai 40,34 ribu ton dari target sebesar 38,63 ribu ton.

"Adapun sentra produksi  udang di Sulsel yakni kabupaten Pinrang, Bone Maros, Takalar, Luwu, Luwu Timur Bulukumba dan Pangkep," sebut Hardi.

Sementara itu tahun ini Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus menggenjot produksi udang windu sebagai salah satu komoditas unggulan perikanan budi daya khas Indonesia. Karena selain memiliki peluang pasar yang masih terbuka lebar, udang windu juga memiliki harga yang lebih tinggi.

Dirjen Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto melalui keterangan resminya mengatakan udang windu merupakan udang asli Indonesia yang harus tetap dikembangkan dan dilestarikan. Sehingga perlu didukung dengan ketersediaan induk dan benih udang yang kontinyu.

Data yang tersedia tentang kenaikan produksi udang windu menunjukkan bahwa selama kurun waktu 5 tahun terakhir (2010 – 2014) mencapai 4,81 % per tahun, yakni dari 125.519 ton pada 2010 menjadi 131.809 ton pada 2014. Angka sementara yang tersedia untuk produksi udang windu pada 2015 adalah 201.312 ton atau 20% dari total produksi udang nasional. Produksi udang windu sebagian besar disumbang dari budi daya dengan sistem tradisional, namun juga dari produksi tradisional plus.

“Cara budi daya dengan sistem ini kita dukung karena selaras dengan prinsip keberlanjutan. Ke depan, kita dukung dengan membenahi saluran irigasi di tambak-tambak tradisional tersebut, sehingga kontinuitas produksi udang windu di wilayah ini dapat terwujud,” ujar Slamet.

Budi daya udang windu dilakukan dengan memperhatikan prinsip keberlanjutan, baik keberlanjutan lingkungan maupun dari sisi usaha.

Maka dari itu melalui Dirjen Perikanan Budidaya, KKP mendukung program ini dengan penyiapan induk unggul dan benih bermutu yang diproduksi oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) seperti di Balai Besar Perikanan Budidya Air Payau (BBPBAP) Jepara dan juga Balai Perikanan Budidya Air Payau (BPBAP) Takalar.

Sunday, 13 March 2016

2016: ARLI Optimis Target Ekspor Rumput Laut Capai 350 Ribu Ton

MAKASSAR -- Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI) kembali melakukan Ekspor Rumput Laut sebesar 110 TEUs, atau sekitar 80% dari total ekspor langsung (direct call) sebesar 200 TEUs. Melalui Pelabuhan PT Terminal Petikemas Makassar. 

Ketua Devisi Keanggotaaan dan kebijakan DPP Arli Pusat, Asdar Marsuki, mengatakan ekspor rumput laut merupakan komoditas ekspor terbesar di sektor perikanan Sulsel dengan estimasi ekspor naik sebesar 5-10 % tiap tahunnya.

"Secara nasional, tahun ini kita targetkan ekspor Rumput laut kita bisa mencapai 350 ribu ton dari segi material, dengan kenaikan bisa mencapai 20 persen," ungkap Asdar saat mengunjungi aktivitas ekspor impor di Pelabuhan TPM, Sabtu (12/3/16).

Adapun tujuan ekspor rumput laut Sulsel kata Asdar, yaitu Negara Cina, Jepang, Korea, Filipina, Eropa dan Amerika. "Yang terbesar Cina sekitar 60% dari total ekspor rumput laut kita sedangkan Eropa dan Amerika masih sedikit," tuturnya.

Untuk meningkatkan Ekspor rumput laut kata Asdar pihaknya telah mengupayakan ekspansi pasar ke beberapa negara di Eropa dan Amerika. "Tahun ini kita mencoba membawa misi dagang di negara Eropa dan Amerika," ucapnya.

Namun kata Asdar salah satu hambatannya yaitu dari segi regulasi pemerintah yaitu isu tentang pelarangan ekspor raw material secara bertahap. "Kita akui selama ini kita sangat terganggu akibat regulasi pemerintah yang akan melarang ekspor rumput laut kering, bukan hanya merugikan petani akan tetapi para pengusaha juga kena imbasnya. Bayer yang selama ini terikat kontrak panjang dengan ARLI akhirnya lepas kontrak dan sekarang hanya lot lot kecil saja," cetusnya  

Disamping itu kata Asdar dari segi pengurusan dokumentasi ekspor masih menjadi kendala selama ini.
"Pengennya sih kita satu tempat sehingga permudah urus dokumennya, sekarang ini kan urus dokumentasinya masih terpisah pisah, ada di karantina ada di Pabean dan sebagainya," tandasnya.

Thursday, 10 March 2016

Telur Ikan Terbang Sulsel Diminati Di Asia

int: ikan terbang
MAKASSAR -- Telur ikan terbang merupakan salah satu komoditas andalan perikanan sulsel. Nilai ekspor telur ikan terbang menempati urutan kedua setelah udang. Jumlah ekspor telur ikan terbang dari sulsel adalah sebesar 20-30% dari jumlah seluruh ekspor telur ikan terbang Indonesia ke negara-negara Asia. 

Dari data Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sulsel, tahun ini ekspor telur ikan terbang di target mencapai 876 ton atau dengan nilai 22.987 Juta Dolar. Telur ikan terbang Sulsel banyak di cari dan diekspor di Negara-negara Asia Timur seperti Hong Kong, Jepang, Korea, Taiwan, dan China.

Dikalangan Nelayan, nilai telur ikan terbang cukup mahal untuk harga telur ikan terbang biasanya di banderol sekitar Rp 200-300 ribu per kilogram nya. Karena harganya cukup mahal telur ikan terbang banyak diburu.
Di Sulsel Telur ikan terbang banyak ditemukan di daerah perairan Makassar dan gowa. Orang-orang setempat menyebutnya “torani”.

Seperti Daeng Beta, salah satu nelayan Gowa mengaku, bisnis telur ikan terbangnya, dipasarkan hingga Korea, Jepang, Taiwan, dan Vietnam. Lantaran pangsa pasar di sana lebih besar jika dibandingkan di dalam negeri. "Kalau di luar negeri digunakan untuk sushi, dan orang sana pada suka dengan telur ikan," kata pria asli Bontoa Gowa.

Kata Daeng Beta untuk menangkap telur ikan terbang hanya menggunakan alat tangkap yang  sangat sederhana, yaitu hanya dengan menaruh daun kelapa kering di dasar laut. "Nanti ikan terbang bertelur lalu esoknya kita ambil, biasanya saya dapat  sekali melaut itu kita dapat 100 (kg) telur," tambahnya.

int: telur ikan terbang
Secara pengolahan telur ikan terbang terbilang cukup mudah. Telur ikan terbang yang telah dipanen berupa butiran halus berwarna putih keruh sampai kuning keemasan, berlendir serta melekat dalam satu rangkaian memanjang (20-100 cm). Rangkaian telur tersebut dijemur diatas perahu dengan menggunakan penjemur dari tali. Waktu penjemuran berkisar satu sampai dua hari. Telur yang sudah kering dan berserat ini kemudian disimpan dalam kantong plastik, untuk kemudian dibawa ke darat.

Dari segi kandungan protein maka telur ikan terbang yang siap ekspor dari Sulsel mempunyai kandungan protein yang lebih tinggi yaitu 39.3%, sedangkan yang berserat adalah 41.5%.

Protein dari serat yang dipisahkan dari butiran telur ikan terbang sangat tinggi yaitu 66.2% yang sampai saat ini belum dimanfaatkan.
Salah satu pemanfaatan serat ini adalah untuk produk kolagen yang masih import dan banyak digunakan dalam produk kesehatan. Kandungan lemak dari telur ikan terbang Sulseltermasuk rendah yaitu 3,1 persen

Wednesday, 9 March 2016

NTP Sektor Perikanan Sulsel Turun 0,16 Persen

MAKASSAR -- Nilai Tukar Petani (NTP) Sulsel khususnya di sektor perikanan budidaya mengalami penurunan selama bulan Februari 2016 sebesar 0,16 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel Nursam Salam mengatakan Penurunan tersebut disebabkan oleh perubahan indeks yang diterima petani mengalami penurunan sebesar 0,36 persen sedangkan indeks yang dibayar petani naik sebesar 0,20 persen.

"Ini terjadi karena indeks yang diterima petani mengalami penurunan, yaitu subsektor perikanan tangkap mengalami penurunan sebesar 0,01 persen, sedangkan pada subsektor perikanan budidaya mengalami penurunan sebesar 0,64 persen," paparnya beberapa hari yang lalu.

Sedangkan tambah Nursam, indeks yang dibayar petani mengalami penurunan sebesar 0,20 persen di mana konsumsi Rumah Tangga turun sebesar 0,18 persen dan indeks BPPBM mengalami penurunan sebesar 0,23 persen.

Sementara itu Kebid Dinas Kelautan dan Perikanan Sulsel Sulkaf S Latief mengatakan, penurunan daya masyarakat terhadap budidaya perikanan dipengaruhi oleh harga rumput laut di pasaran masih rendah.

"Penurunan ini merupakan imbas dari harga rumput laut yang masih rendah sehingga tingkat budidaya rumput laut di petani menurun," ungkapnya.

"Sektor lain juga mengalami penurunan seperti petambak dan pembudidaya ikan mengalami penurunan karena faktor cuaca, yaitu para petani kita terlambat menebar sehingga waktu panen juga mundur," Tambahnya.

Sunday, 6 March 2016

Konsumsi Masyarakat Meningkat, Bandeng Ditarget Capai 154 Ribu Ton

MAKASSAR -- Pemerintah Sulawesi Selatan melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sulsel  tahun ini menargetkan produksi ikan bandeng mencapai 154.140 ton, atau naik sekitar 30 persen lebih, dari hasil produksi bandeng tahun lalu yang mencapai 120.954 ton.

Kepala Bidang Budidaya Perikanan DKP Sulsel, Sulkaf S Latief mengatakan, bandeng merupakan hasil produksi perikanan budidaya yang banyak diminati di Sulsel,‎Hal tersebut didorong oleh konsumsi masyarakat yang juga meningkat.

"Saat ini produksi ikan bandeng tersebar diberapa kabupaten di Sulsel, sedangkan sentra produksinya yaitu kabupaten Pangkep, Pinrang, Bone, dan Luwu Timur, " tutur Sulkaf belum lama ini.

Untuk mencapai target tersebut kara Sulkaf, pihaknya mendorong para petambak di daerah untuk lebih memperhatikan kualitas produksi dimana pengembangan diarahkan untuk menghasilkan ikan bandeng premium dengan kualitas yang lebih baik,
Serta penerapan CBIB para petambak.

Kata dia, Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) adalah salah satu upaya untuk mendukung pengendalian sistem jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan budidaya.

"Pemberian Sertifikat CBIB kepada pembudidaya yang telah menerapkannya sekaligus akan memberikan nilai tambah pada produk perikanan budidaya, yang selaras dengan konsep industrialisasi perikanan budidaya. Selain itu juga menjamin kualitas produk perikanan dalam memasuki MEA," tandasnya.

Sunday, 28 February 2016

Tingkatkan SDM Sektor Perikanan, KKP Tambah Tenaga Penyuluh 3 Ribu

MAKASSAR -- Untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Badan Pengembangan SDM dan Pemberdayaan Masyarakat Kelautan dan Perikanan (BPSDMP KP), mengangkat sebanyak  3.000 orang Tenaga Penyuluh Perikanan Bantu (PPB).

Kepala Pusat Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat Kelautan Perikanan (Pusluhdaya KP) Endang Suhaedy, mengatakan, jumlah penyuluh perikanan Pegawai Negeri sipil (PNS) saat ini sebanyak 3.145 orang.

"Jumlah tersebut dirasa masih kurang untuk mendampingi pembangunan di sektor kelautan perikanan, untuk itu kita berupaya mengangkat Penyuluh Perikanan Bantu (PPB) untuk mendapingi kegiatan prioritas KKP," tutur Endang di Hotel Singgasana, Sabtu (27/2/16).

Menurut Endang penyuluh perikanan mempunyai peranan penting dalam melakukan pembinaan dan pendampingan pelaku usaha dalam rangka pemberdayaan untuk mewujudkan visi misi KKP yaitu kedaulatan, keberlanjutan dan kesejahteraan.

" untuk itu sebagai upaya untuk mensinergikan dan menyamakan persepisi bagi PPB dalam melaksanakan pedoman kerja maka dilaksanakan pembekalan untuk 3.000 peserta PPB, yang dilaksanakan di Denpasar, Surabaya, Banjarmasin, Makassar Yogyakarta, Bandung dan padang. Untuk di Makassar ini sudah yang kelima yang diikuti sebanyak 180 peserta dari Sulawesi, Maluku, dan Papua," kata Endang.

Sementara dalam pembekalan tersebut peserta diberikan materi kegiatan antara lain kebijakan penguatan dan pengembangan teknologi informasi penyuluhan dan pemberdayaan masyarakat serta sosialisasi pemanfaatan teknologi informasi penyuluhan, meliputi pengayaan vidio conference, pengenalan drone, penguata sinyal, website, cyber extension dan media sosial.

Endang berharap tujuan kegiatan ini dapat tercapai meliputi sosialisasi teknis operasional aplikasi Simluhdaya KP, pemuktahiran, validasi dan evaluasi data Simluhdaya KP, serta sosialisasi teknologi informasi dan komunikasi penyuluhan.

"Melalui kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan fungsi dan peran PPB dalam Penyelenggaraan penyuluhan dan kegiatan prioritas KP, menciptakan mekanisme kerja serta meningkatkan kinerja dan profesionalisme PPB," pengkasnya.

Saturday, 27 February 2016

Penyuluh Perikanan Kunci Keberhasilan Perikanan Dalam Negeri

MAKASSAR -- Salah satu cara meningkatkan potensi perikanan nasional adalah melalui
kegiatan pendidikan, pelatihan, penyuluhan, dan pemberdayaan yang ditujukan bagi masyarakat di sektor kelautan dan perikanan.

Hal tersebut di ungkapkan Kepala pusat penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat Kelautan dan Perikanan (Kapusluh), Endang Suhaedy, di acara Bimtek, dan Workshop di Hotel singgasana, Makassar (Sabtu/27/2/16).

“Di bidang penyuluhan dan pemberdayaan, KKP berupaya membangun kemandirian kelompok masyarakat pelaku utama usaha kelautan dan perikanan baik itu nelayan, pembudidaya, dan pengolahan," tuturnya.

Menurut Endang keberadaan penyuluh perikanan bantu sangat menentukan keberhasilan perikanan di tanah air.

“Posisi penyuluh perikanan memiliki peran yang cukup strategis dalam pengembangan perikanan nasional kita kedepan, hal ini sejalan dengan visi Mentri KKP yaitu kedaulatan, keberlanjutan, dan kesejahteraan. Jadi sangat bergantung pada penyuluh, mereka adalah agen of cange, Intinya penyuluh adalah kuncinya,” katanya.

Lebih jauh Endang mengatakan, BPSDMP KP melalui unit kerjanya Pusluhdaya KP, sejak 2011 telah membangun aplikasi Sistem Informasi Manajemen Penyuluhan Kelautan dan Perikanan (Simluh KP) sebagai database bersama penyuluhan perikanan di pusat, provinsi dan, kabupaten/kota yang pada tahun 2016 disempurnakan menjadi Simluhdaya KP.

Aplikasi ini dibangun dengan swadaya, belum didukung oleh anggaran APBN, namun setiap tahunnya dilakukan perbaikan dan pengembangan sesuai kebutuhan stakeholder kelautan dan perikanan.

Dijelaskan lebih lanjut, manfaat penggunaan Simluhdaya KP sebagai media informasi dan komunikasi antara pusat dengan stakeholder kelautan dan perikanan, khususnya penyuluh perikanan berupa penyedia informasi dalam penyusunan perencanaan, kajian pengembangan dan pemenuhan kebutuhan dalam pelaksanaan penyuluhan di lapangan.

Sekadar diketahui bimbingan teknis (Bimtek) Penyuluh Perikanan Bantu (PPB) di Makassar ini diikuti peserta dari Sulawesi Utara, Gorongtalo, Sulawesi Selatan, Maluku, dan Papua, dengan jumlah peserta yang hadir mencapai 180 orang.

Friday, 26 February 2016

ARLI Ekspor Rumput Laut 1.325 Ton

MAKASSAR -- Asosiasi Rumput Laut ARLI akan melakukan ekspor rumput laut sebanyak 53 kontainer atau sebesar 1.325 ton dengan nilai USD 861.000 melalui sistem direct call di Pelabuhan Makassar. Dengan tujuan ekspor yaitu Cina dan Jepang.

Seperti dijelaskan Sekertaris Jenderal ARLI, Mursalim, bahwa ekspor rumput laut merupakan produk andalan di sektor perikanan Sulsel dengan produksi diatas 2,5 juta ton tiap tahunnya.

"Secara nasional tahun ini kita menargetkan ekspor rumput laut kita mencapai 300 ribu ton, sementara untuk Sulsel sekitar 175 ribu ton atau sekitar 70% dari total ekspor," ungkapnya, Jumat (25/2/16).

Sementara itu Ketua ARLI, Safari Azis menuturkan tiap tahunnya ARLI mengekspor rumput laut kering rata rata mencapai 282 ribu ton lebih dengan pangsa pasar terbesar yakni Cina yaitu sekitar 60% dari total ekspor, atau sekitar 169 ribu ton tiap tahunnya selebihnya ke Jepang, Vietnam dan Eropa.

"China jadi serapan pasar paling besar. Kita harus bersyukur China menerima produk kita. Karena selama ini kan yang menjadi persoalan produksi rumput laut yaitu pasarnya. Produksi kita banyak, tapi tidak semua terpakai. Andalkan serapan industri dalam negeri, masih kurang," ujarnya.

Menurutnya, gaya hidup masyarakat China membuat konsumsi rumput laut meningkat. Meski ada perlambatan ekonomi China, ekspor rumput laut dari Indonesia tidak berpengaruh, karena kebutuhan masyarakatnya.

Sebelumnya Safari Azis menyampaikan penolakan adanya wacana larangan ekspor bertahap rumput laut, menurutnya pelarangan ekspor bisa merugikan petani.

Tuesday, 23 February 2016

ARLI Dukung Ekspor 3 Kali Lipat Sulsel

MAKASSAR -- Demi suksesnya misi Asosiasi Rumput Laut Indonesia  (ARLI) yaitu menjadikan Indonesia pengekspor rumput laut terbesar dunia dan memiliki industri berdaya saing maka dengan itu ARLI menyatakan dukungan kepada program pemerintah daerah Sulawesi Selatan tentang gerakan ekspor tiga kali lipat dan program pengembangan nilai tambah atau hilirisasi.

Ketua ARLI Safari Azis mengatakan, pihak ARLI sangat mendukung pemerintah Sulsel dalam meningkatkan produksi dan pengembangan budidaya rumput laut di wilayah Sulsel mengingat potensi geografis, ekologi dan merupakan menyanggah ekonomi masyarakat pesisir dan Pulau-pulau kecil

"Kami berkomitmen dalam melakukan penguatan dan penetrasi pasar baik lokal maupun internasional, termasuk melakukan penertiban dan standardisasi mutu produk para pelaku usaha rumput laut, ujar Safari, Senin (22/2/16).

Disamping itu lanjut Safari, ARLI juga mendukung program pemerintah daerah Sulsel dalam melaksanakan program hilirisasi melalui peningkatan nilai tambah di setiap rantai pelaku usaha rumput laut secara insklusif dan inovatif untuk mencapai kesejahteraan seluruh pelaku usaha yang terlibat.

"Namun untuk mensukseskan itu Perlu upaya kaleborasi dan partisipasi kalangan di berbagai pihak termasuk ARLI dan pemerintah daerah Sulsel dalam memperkuat industri olahan yang sudah ada, serta upaya kita dalam penumbuhan industri baru yang berdaya saing," tuturnya.

Sebelumnya Safari menyampaikan sikap penolakan terhadap regulasi pemerintah terkait pembatasan ekspor Rumput laut dalam bentuk Raw Material (rumput Laut kering), menurut Safari, serapan industri pengolahan rumput laut dalam negeri belum mampu mengimbangi hasil produksi yang tiap tahun meningkat.

" Kita punya persediaan banyak, gudang ARLI semuanya sudah penuh, kalau ini tidak di ekspor kita mau apakan itu persediaan, sementara permintaan pasar luar negeri cukup baik” jelasnya.

"Jika dapat meraih keduanya industri hilir dan hulu, mengapa ada wacana yang memaksakan diri untuk menggapai salah satunya yang bahkan belum tentu bisa kita raih jika meninggalkan yang lain, mari kita membuka mata dan berpikir secara bijak, "tutup Safari.

Monday, 22 February 2016

2016, Sulsel Target Produksi Perikanan Budidaya 3,2 Ton

MAKASSAR -- Pemerintah Sulawesi Selatan melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sulsel pada tahun 2016 mematok target produksi perikanan budidaya sebesar 3.216.206 ton. Target itu mengalami kenaikan dari total capaian produksi ikan tahun 2015 sebesar 3.006.656 ton.

Kabid DKP Sulsel Sulkaf S Latief mengatakan, pencapaian target produksi tahun 2016 masih diarahkan pada 10 komoditas unggulan budidaya antara lain rumput laut, udang, kakap, kerapu, bandeng, mas, nila, patin, lele dan gurame.

"Tahun ini  rumput laut masih menjadi andalan untuk memenuhi target produksi perikanan budidaya.  menyumbang sekitar 70 persen kemudian disusul udang sekitar 20 persen" kata Sulkaf baru baru ini.

Sementara itu untuk mengembangkan sektor perikanan budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) mengalokasikan anggaran sebesar  Rp1,3 triliun. Anggaran tersebut akan menjadi bantuan langsung bagi masyarakat pembudidaya melalui beberapa kegiatan prioritas pembangunan yaitu kedaulatan, keberlanjutan, dan kesejahteraan.

Untuk mendukung kedaulatan sekaligus meningkatkan daya saing produk perikanan budidaya yaitu dengan penerapan Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) di unit usaha perikanan budidaya dan Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB).

sedangkan dukungan DJPB sesuai pilar keberlanjutan yaitu melalui penyediaan benih untuk restocking, benih untuk usaha budidaya polikultur atau multi spesies, dan penyediaan bibit mangrove untuk ditanam di kawasan tambak. Beberapa program prioritas yang dicanangkan adalah penyediaan 100 juta benih dan penyediaan bibit pohon mangrove kurang lebih sebanyak 600 ribu batang.

Untuk pilar kesejahteraan, DJPB membantu secara riil melalui bantuan kebun bibit rumput laut di 20 provinsi, budidaya biofloc sebanyak 5 paket, sarana budidaya kekerangan sebanyak 60 paket, dan sarana budidaya minapadi sebanyak 760 paket. Di samping itu juga ada bantuan lain seperti bantuan pakan ikan dan program pra sertifikasi hak atas tanah (pra SEHATKAN).

ARLI: Regulasi Pembatasan Ekspor Rumput Laut Picu Kemiskinan

MAKASSAR -- Pengusaha Rumput Laut yang tergabung dalam Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI) menolak tegas wacana pembatasan ekspor rumput laut dalam bentuk raw material (rumput laut kering).

Menurut Ketua ARLI Safari Azis, serapan industri dalam negeri terhadap rumput laut dinilai masih sangat rendah, yakni hanya mencapai 87.429 ton kering, atau sekitar 10 persen, sedangkan data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan mencatat produksi rumput laut Indonesia pada tahun 2015 mencapai 10.335.000 ton basah atau jika dikonversi menjadi 1.033.500 ton kering. Sehingga rumput laut yang dihasilkan oleh petani masih sangat membutuhkan penyaluran pasar luar negeri.

Selain itu kata Azis, saat ini kita baru memanfaatkan sekitar 30% lahan budidaya, jadi sangat tidak beralasan melakukan pembatasan apa lagi menutup pasar ekspor. "Artinya wacana pembatasan /pelarangan ekspor rumput laut sangat bertentangan dengan kondisi faktual saat ini, dan pelarangan tersebut dapat memiskinkan para petani," kata Azis saat berkunjung ke redaksi Media Harian Fajar, Lt. 4 Graha Pena Makassar, Senin (22/2/16).

Lebih Jauh Azis mengatakan, produksi rumput laut dalam negeri meningkat setiap tahunnya, persediaan masih banyak sedangkan serapan masih minim."Kalau ini tidak diekspor mau diapakan persediaan itu, sementara permintaan pasar luar negeri cukup baik," ujar Azis.

Sementara itu menurut Sekjed ARLI  Mursalim, perlindungan terhadap sektor hulu perlu diperhatikan dengan baik. Pasalnya, pembatasan ekspor rumput laut memiliki dampak sosial ekonomi yang cukup serius, terutama bagi kesejahteraan petani karena rumput laut merupakan salah satu alat jaring pengaman sosial bagi masyarakat pesisir dan pulau pulau kecil.

Selain itu Kata mursalim  pihak Arli, mendukung penuh upaya pemerintah dalam kegiatan hilirisasi rumput laut serta pengembangan industri berdaya saing. Namun, disaat yang sama pihaknya juga mendukung pemanfaatan peluang pasar luar negeri, dengan melakukan pemenuhan bahan baku yang berkualitas sesuai dengan kebutuhan industri global.

"Kita harapkan pemerintah bisa mengambil langkah-langkah yang strategis agar pengembangan komoditas rumput laut bisa optimal baik dari sisi industri pengolahannya hingga ke perdagangannya agar bisa berpihak pada petani dan pemangku kepentingan lainnya dari hulu hingga hilir.

Sehingga pemerintah juga tidak lagi dibebani dengan jutaan rakyat miskin di pesisir termasuk di daerah perbatasan kita karena telah tersejahterahkan oleh bisnis rumput laut dari hulu ke hilir, sekaligus mewujudkan nawacita pemerintah dalam membangun daerah pinggiran," pungkasnya.

Thursday, 18 February 2016

Januari 2016, Ekspor Ikan Udang Sulsel Capai 8,51 Juta Dolar

Hasil tangkapan nelayan Sulse
MAKASSAR-- Hasil perikanan (ikan dan udang) termasuk komoditas andalan Ekspor Sulawesi Selatan dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan menunjukkan Ekspos ikan dan udang sulsel termasuk ketiga terbesar dari komoditas lainnya seperti, Nikel, Kakao, buah buahan, kopi, daging dan kayu.
Tercatat selama bulan Januari 2016 ekspor perikanan Sulsel mencapai 8,51 juta dolar, dimana terjadi peningkatan dibanding bulan sebelumnya Desember 2015 yaitu sebesar USD 6,60 Juta.
Kepala BPS Sulsel Nursam Salam mengatakan, Ekspor Ikan dan Udang sulsel Selama 2015 mencapai USD 199,18 Juta, namun jika tahun ekspor ikan udang tahun 2014 terjadi penurunan. Dimana pada tahun 2014 ekpor ikan udang Sulsel sebesar USD  25,14 juta atau penurunan sebesar 27,92 persen dibanding tahun 2015.
" Namun jika dibandingkan dengan bulan ke bulan yakni dari bulan Januari 2015 hasil ekpor ikan udang sulsel sebesar USD 7,60 juta terjadi peningkatan pada bulan januari 2016 yakni sebesar USD  8,51 juta," ungkap Nursam, baru baru ini.
Adapun 10 negara tujuan ekspor Sulsel termasuk didalamnya komoditas perikanan (ikan dan udang) yakni Jepang, Tiongkok, Malaysia, Amerika Serikat, Singapura, Philipina, Korea Selatan, Belanda, Vietnam, dan Jerman.

Seperti diketahui tahun ini, Pemerintah Sulsel menargetkan ekspor komoditas perikanan mencapai USD 283.916 juta atau sebesar sebesar 127.832 ton.
Kabid Perikanan Budidaya DKP Sulsel, Sulkaf S Latief mengatakan, nilai tersebut meningkat dari target ekspor di tahun 2015 yaitu sebesar 104.903 ton atau dengan nilai USD 235.414 juta.
Adapun rincian ekspor komoditas perikanan tersebut adalah Udang Beku sebanyak 6.130 ton senilai USD 75.332, Tuna/Cakalang sebanyak 3.260 ton atau senilai USD 28.504, Telur Ikan Terbang 876 ton senilai USD 22.968, Teripang sebanyak 159 ton senilai USD 694, Cumi Beku sebanyak 2.345 ton senilai USD 2.679, Rumput Laut sebanyak106.000 ton senilai USD 99.891juta , Sirip Ikan Hiu sebanyak 17 ton senilai USD 62 juta, Kakap/Kerapu sebanyak1.522ton senilai USD 8.792 juta, Kepiting sebanyak 1.348 ton senilai USD 26.135 juta.

Tuesday, 16 February 2016

Budidaya Minapadi Dorong Peningkatan Produksi Ikan Mas Di Sulsel

MAKASSAR -- Perkembangan produksi ikan mas secara nasional menunjukkan kinerja yang cukup baik dengan peningkatan produksi tiap tahunnya rata - rata dari sebesar 7,09%. Di Sulawesi Selatan ikan Mas merupakan produksi andalan bagi pembudidaya ikan air tawar dengan menempati posisi pertama dari ikan jenis lainnya seperti nila, gurami, patin dan lele.

Kepala Bidang Perikanan Budidaya Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sulsel Sulkaf S Latief mengatakan produksi ikan Mas Sulsel menjadi andalan di sektor budidaya ikan air tawar. Adapun daerah produksi ikan mas terbesar di sulsel yaitu Kabupaten Pinrang, Sidrap, Enrekang, Tator, Soppeng dan Gowa.

" Produksi budidaya ikan air tawar  sepanjang tahun 2015 terbesar adalah ikan Mas yaitu sebesar 9.029 ton disusul Nila sebesar 4.166 ton, Lele sebesar 1.848 ton, patin sebesar 45 ton dan Gurame 13 ton," ungkap Sulkaf, Selasa (16/2/16).  
Menurut Sulkaf, pencapaian yang cukup tinggi tersebut didorong oleh kegiatan budidaya ikan mas melalui minapadi, yaitu sistem penerapan budidaya dilahan persawahan dengan pola penanaman padi dan ikan mas secara bersamaan pada satu lahan.

" Ini juga disebut metode tumpang sari, biasanya kan habis tanam padi banyak air maka dari itu ditebar bibit ikan mas. Penerapan dengan program mina padi ini sudah banyak dikembangkan di daerah Sulsel terutama di Pinrang, Enrekang, Luwu, Sidrap dan Gowa," ujar Sulkaf.

Namun dilihat dari kinerja capaian terhadap target tahunan menunjukkan bahwa capaian produksi ikan mas tahun 2015 belum capai target yang ditetapkan yaitu sebesar 9.825 ton dimana nilai produksi yang hanya mencapai kurang lebih 90% dari target.

Yang menjadi penyebab tidak tercapainnya target tersebut, menurut Sulkaf antara lain dikarenakan faktor cuaca yaitu musim kemarau yang melanda di sejumlah daerah penghasil ikan mas, dan menyebabkan kekeringan sehingga waktu tanam mundur.

Disamping itu secara umum kapasitas usaha yang dijalankan pembudidaya masih dalam skala kecil, disisi lain permasalahan tingginya biaya produksi sebagai akibat dari tingginya harga pakan pabrikan tidak sebanding dengan harga yang berlaku di pasaran, sehingga secara ekonomis tingkat efesiensi masih cukup rendah.

Serta fenomena masih munculnya penyakit yang disebabkan virus KHV pada beberapa sentral produksi menjadi penyebab utama penurunan capaian produksi ikan mas.

Dalam upaya pencapaian target volume produksi maka perlu upaya - upaya yang secara langsung mendorong peningkatan efesiensi produksi, diantaranya : (i) Intensifikasi melalui pengembangan teknologi baik budidaya maupun aspek nutrisi (pakan) yang berkualitas berbasis bahan baku lokal; (ii) Pengembangan kapasitas usaha dengan dukungan penguatan modal bagi usaha skala kecil melalui penguatan kemitraan usaha; (iii) Perluasan akses pasar dan peningkatan nilai tambah. Jika upaya di atas mampu dilakukan, maka target produksi pada Tahun 2014 diprediksi akan mampu di capai.

Diolah dari berbagai sumber

Friday, 12 February 2016

Akuakultur Merupakan Tulang Punggung Perikanan Dalam Negeri

MAKASSAR -- Akuakultur atau lebih dikenal perikanan budidaya kini telah menjadi tulang punggung dari sektor perikanan dalam negeri. Sejak tahun 2009 Indonesia telah menjadi produsen akuakultur terbesar kedua di dunia, di bawah negara China.

Dari data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menunjukkan Peningkatan rata-rata produksi perikanan budidaya Indonesia setiap tahunnya sebesar 27,84 persen. Dibandingkan dengan 10 (sepuluh) besar negara penghasil perikanan budidaya dunia, maka prosentase kenaikan rata-rata produksi Indonesia tertinggi dibandingkan dengan negara lainnya.

Bahkan dengan produsen perikanan budidaya terbesar di dunia yakni negara China, juga jauh lebih besar kenaikannya. China sebagai produsen ikan dunia terbesar, kenaikan rata-rata produksinya hanya sebesar 5,29 persen. Angka ini juga di bawah kenaikan rata-rata produksi perikanan budidaya dunia.

Khusus Sulawesi Selatan disektor perikanan budidaya menunjukkan tren peningkatan dibanding sektor perikanan tangkap.

Badan pusat statistik (BPS) Sulsel mencatat awal tahun 2016 subkelompok budidaya perikanan sulsel naik 0,14% sedangkan sub kelompok penangkapan mengalami penurunan sebesar 0,51%.

Kepala BPS Sulsel Nursam Salam mengatakan kenaikan subkelompok perikanan budidaya tersebut mempengarui nilai tukar petani dimana Indeks yang dibayar Petani (Ib) mengalami kenaikan sebesar 0,17% , dan subkelompok Konsumsi Rumah Tangga naik sebesar 1,12%.

Sulsel sendiri memiliki beberapa komoditas yang menjadi andalan dalam subsektor perikanan budidaya yang dikembangkan dan menjadi fokus dalam peningkatan produksi perikanan budidaya diantaranya udang, rumput laut, bandeng, kerapu, kakap, nila, mas, lele, patin dan gurame.

Kabid Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sulkaf S Latief mengatakan Secara total produksi perikanan budidaya pada tahun 2015 sebanyak 3.006. 656 ton. Dimana komoditas berkontribusi besar adalah Rumput Laut sebesar 2.826.536 ton, dengan rician cottonii sebanyak 1.733.495 ton, Gracillaria sebanyak 884.367ton, Spinosum sebanyak 208.673 ton. Disusul udang dengan totol produksi 40.346 ton dengan rician Udang windu sebanyak 15.573 ton, Udang vanamae sebanyak 11.785 ton dan Udang lainnya sebanyak 12.988 ton. "Kemudian disusul ikan bandeng sebanyak 120.954 ton," ungkap Sulkaf.

Potensi perikanan budidaya Sulsel memang memiliki prospek cerah ditunjukkan beberapa komoditas seperti rumput laut dan udang. Diketahui produksi rumput laut nasional sebanyak 30% dari Sulsel. Sementara bandeng, lele dan kerapu memiliki pasar di luar negeri yang bisa dijadikan komoditas andalan yang memiliki prospek pasar di luar dan di dalam negeri serta berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut.

Tuesday, 9 February 2016

2016, Sulsel Bidik Ekspor Perikanan 283.916 Juta Dolar

MAKASSAR -- Tahun ini Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sulsel  membidik ekspor komoditas perikanan sebesar 127.832 ton atau senilai 283.916 juta dolar Amerika Serikat (AS).

Kabid Perikanan Budidaya DKP Sulsel Sulkaf S Latief mengatakan nilai tersebut meningkat dari target ekspor di tahun 2015 yaitu sebesar 104.903 atau dengan nilai  US$235.414

“Produksi budidaya komoditasnya itu ada udang, rumput laut, bandeng,  dan beberapa ikan budidaya lainnya. Untuk produksi, perikanan tangkap komoditasnya, ikan tuna cakalang, teripang, kakap, kerapu, kepiting, cumi-cumi, sirip hiu, telur ikan terbang, dan lainnya,” ujar Sulkaf, Selasa (9/2/16).

Rincian ekspor komoditas perikanan tersebut adalah Udang Beku sebanyak 6.130 ton senilai USD 75.332, Tuna/Cakalang sebanyak 3.260 ton atau senilai USD 28.504, Telur Ikan Terbang  876 ton senilai USD 22.968, Teripang sebanyak 159 ton senilai USD 694, Cumi Beku sebanyak 2.345 ton senilai USD 2.679, Rumput Laut sebanyak106.000 ton senilai USD 99.891, Sirip Ikan Hiu sebanyak 17 ton senilai USD 62, Kakap/Kerapu sebanyak1.522ton senilai USD 8.792, Kepiting sebanyak 1.348 ton senilai USD 26.135 dan Bahan makanan Lainnya sebanyak 6.176 ton senilai USD 8.857.

"Komoditas perikanan Sulsel diekspor ke berbagai Negara, seperti Tiongkok, Filipina, dan Korea,  Jepang, Amerika Serikat, Perancis, Korea, Rusia, Belgia, Inggris, dan lain lain," terang Sulkaf.

Sementara itu untuk mencapai target produksi tahun ini, pihak DKP Sulsel telah menyiapkan beberapa langkah strategis. Diantaranya pendampingan kepada petani terkait cara budidaya perikanan yang baik, termasuk soal pemeliharaan dan pembelian bibit ditempat yang bersertifikat.

"Kami juga melakukan perbaikan saluran air dan pematangnya, serta menyiapkan bantuan benih berkualitas. Sudah ada anggaran yang disiapkan Rp15 miliar untuk sektor budidaya, baik peningkatan dan pendampingan," ujar sulkaf.

Friday, 5 February 2016

Bangun Industri Rumput Laut, KKP Anggaran Rp 330 M

MAKASSAR -- Pemerintah telah mengelakkan pengembangan industri rumput laut. Pasalnya, Indonesia dikenal sebagai sentra produksi rumput laut terbesar di dunia.

Dari Data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyebutkan sebesar 64 persen dari hasil produksi tersebut di ekspor ke luar negeri dalam bentuk mentah. Sementara kebutuhan domestik meningkat yang tercermin dalam pertumbuhan impor rumput laut 35 persen menjadi US$ 8 juta pada 2013.

Karena itu tahun ini pemerintah melalui  KKP meningkatkan alokasi anggaran budidaya rumput laut 8 kali lipat menjadi Rp 330 miliar. Anggaran tersebut digunakan untuk membangun fasilitas 8 gudang rumput laut dan 10 pabrik olahan, selain itu anggaran juga akan digunakan untuk penyebaran bibit berkualitas dan peningkatan jumlah produksi.

terdapat tiga hal yang menjadi alasan pemerintah untuk mendorong kinerja industri tersebut. Pertama, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi lahan yang sangat luas. Dari jutaan hektare lahan yangtersedia, budidaya rumput laut baru memanfaatkan lahan 350 ribu hektare.

Kedua, terdapat 555 jenis rumput laut di Indonesia. Namun, baru tiga jenis rumput laut yang dibudidayakan yakni Gracilaria (penghasil agar-agar yang dibudidayakan di air payau), Eucheuma cottonii dan Eucheuma spinosum (penghasil karaginan yang dibudidayakan di wilayah pesisir).

Ketiga, hilirisasi industri rumput laut akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir terutama bagi nelayan budidaya dan petani rumput laut.

Khusus Sulawesi Selatan rencanaya tahun ini akan di bangun Empat industri pengolahan rumput laut baru berskala medium, di  empat kabupatwn, yaitu Kabupaten Bone, Takalar, Luwu, dan Maros.

Ketua Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI) Safari Azis, menyebutkan empat kabupaten tersebut akan dikucur dana investasi masing-masing minimal Rp15 Miliar. "Empat industri pengolahan tersebut akan dimulai tahun ini. “Dibutuhkan waktu satu hingga dua tahun untuk membangun industri ini,” ujarnya baru baru ini.

Nantinya, industri ini akan menyerap bahan baku baik dari Sulsel, maupun dari daerah di sekitarnya. “Hasil produksinya nanti berupa agar-agar dan karagenan,” tambahnya.

Sedangkan terkait kapasitas produksi, Safari mengatakan pihak investor tengah melakukan kajian. “Jangan sampai hasil produksi ada tetapi tidak tahu dipasarkan ke mana,” terangnya.

Sementara itu Kepala Disperindag Sulsel Hadi Basalamah mengatakan pihaknya bersama ARLI akan membagun industri berbasis kompetensi daerah khususnya industri rumput laut. “Kita akan membuat MoU-nya,” kata dia.

Upaya inisiasi hilirisasi industri rumput laut ini diharapkan dapat mendukung program peningkatan ekspor tiga kali lipat. “Ini sejalan dengan program yang dicanangkan Gubernur Sulsel yaitu peningkatan ekspor tiga kali lipat,” katanya.